Satelit geostasioner mengorbit selaras dengan rotasi Bumi. Satelit ini tetap berada di titik yang sama di khatulistiwa. Orbitnya berada 35.786 kilometer di atas permukaan. Pada ketinggian tersebut, periode orbitnya sesuai dengan rotasi Bumi. Dari permukaan tanah, satelit ini tampak tetap di langit. Hal ini menjadikannya ideal untuk komunikasi dan pengamatan cuaca.
Konsep ini dipopulerkan oleh Arthur C. Clarke pada tahun 1945. Ia mengusulkan penggunaan satelit geostasioner untuk komunikasi global. Satelit pertama adalah Syncom 3 pada tahun 1964, yang menyiarkan Olimpiade Tokyo. Saat ini, ratusan satelit geostasioner menyiarkan TV, telepon, dan data. Satelit-satelit ini merupakan tulang punggung komunikasi satelit.
Karakteristik satelit geostasioner
- Posisi tetap di atas garis khatulistiwa
- Latensi tinggi: sekitar 250 milidetik perjalanan pulang pergi.
- Cakupan luas: sekitar sepertiga permukaan Bumi
- Mahal untuk diluncurkan dan dioperasikan.
- Digunakan untuk TV, cuaca, dan beberapa akses internet.
Satelit geostasioner memiliki beberapa kekurangan. Orbit yang tinggi berarti latensi yang tinggi. Hal ini buruk untuk aplikasi waktu nyata seperti game dan panggilan video. Konstelasi orbit Bumi rendah seperti Starlink menawarkan latensi yang lebih rendah. Namun, satelit geostasioner masih mendominasi siaran TV dan pemantauan cuaca.
Comments
No comments yet. Be the first to share a thought.
Leave a comment