Kekeringan melanda wilayah penghasil jagung, dan beberapa ladang menghasilkan panen dua kali lipat dibandingkan ladang lainnya. Agrigenomik mempertanyakan alasannya. Ilmu ini menerapkan genomik pada pertanian, mempelajari DNA tanaman dan hewan ternak untuk menemukan gen-gen yang berperan dalam hasil panen, ketahanan terhadap penyakit, toleransi kekeringan, dan kandungan nutrisi. Tujuannya adalah untuk menghasilkan tanaman dan hewan yang lebih baik dengan lebih cepat daripada yang memungkinkan seleksi tradisional.
Pemuliaan tradisional bergantung pada pengamatan dan kesabaran. Seorang pemulia menyilangkan dua varietas, menumbuhkan keturunannya, dan memilih yang terbaik. Itu membutuhkan waktu bertahun-tahun. Alat genomik mempersingkat siklus tersebut. Para pemulia mengurutkan DNA ribuan tanaman, mengidentifikasi penanda yang terkait dengan sifat-sifat yang diinginkan, dan memilih bibit sebelum ditanam di lahan. Seleksi genomik telah mengubah pemuliaan sapi perah dan menyebar ke gandum, beras, dan jagung.
Teknologi ini juga menimbulkan pertanyaan. Pengeditan gen dengan CRISPR dapat memperkenalkan sifat-sifat yang tidak akan pernah muncul melalui pemuliaan konvensional. Siapa yang memutuskan pengeditan mana yang dapat diterima? Siapa yang memiliki benih hasil pengeditan tersebut? Petani di negara berkembang mungkin tidak mampu membayar biaya lisensi. Ilmu pengetahuan berkembang pesat. Aturan-aturannya berkembang lambat.
Agrigenomik bukan hanya tentang panen yang lebih besar. Ini tentang memberi makan populasi yang terus bertambah di lahan yang lebih sedikit, dengan air yang lebih sedikit, dalam iklim yang berubah. Itulah tantangan yang coba diatasi oleh bidang ini.
Comments
No comments yet. Be the first to share a thought.
Leave a comment