Lahan bera menggambarkan lahan pertanian yang dibiarkan tidak ditanami selama satu atau lebih musim tanam untuk memungkinkan tanah memulihkan kesuburannya, mengumpulkan kelembapan, dan memutus siklus hama dan penyakit. Praktik ini sudah ada sejak zaman kuno: petani Romawi menanam biji-bijian secara bergantian dengan lahan bera, dan sistem tiga ladang pada abad pertengahan membiarkan sepertiga lahan bera setiap tahunnya. Lahan bera dapat berupa lahan kosong, di mana gulma dikendalikan dengan pengolahan tanah atau herbisida, atau lahan bervegetasi, di mana tanaman penutup ditanam dan kemudian diintegrasikan ke dalam tanah. Dalam pertanian lahan kering, lahan bera di musim panas menyimpan curah hujan musim dingin untuk tanaman berikutnya, meskipun juga membuat tanah rentan terhadap erosi dan mengurangi total produksi per hektar. Di Uni Eropa, kebijakan lahan yang tidak ditanami pernah mengharuskan petani untuk membiarkan lahan bera untuk mengurangi surplus dan mendukung keanekaragaman hayati; saat ini, area fokus ekologis dan skema pertanian ramah lingkungan mendorong praktik serupa. Lahan bera menyediakan habitat bagi satwa liar dan dapat digunakan untuk penggembalaan atau jerami. Rotasi modern sering mengurangi lahan bera kosong dan menggantinya dengan tanaman penutup dan urutan yang beragam.
🟫 Berapung Lahan pertanian yang dibiarkan tidak ditanami selama satu musim untuk mengembalikan kesuburannya.
Farmland left unplanted for a season to restore its fertility.
Comments
No comments yet. Be the first to share a thought.
Leave a comment