Skeptisisme adalah sikap meragukan klaim pengetahuan. Sikap ini mempertanyakan apakah kita dapat mengetahui sesuatu sama sekali. Skeptisisme kuno, yang dikaitkan dengan Pyrrho dan Sextus Empiricus, berpendapat bahwa kita harus menangguhkan penilaian tentang segala sesuatu, karena untuk setiap argumen ada argumen yang sama dan berlawanan. Hasilnya adalah ketenangan, bukan keputusasaan. Skeptisisme modern, yang dikaitkan dengan Descartes, menggunakan keraguan sebagai metode. Descartes meragukan segala sesuatu sampai ia mencapai kepastian akan keberadaannya sendiri. Kemudian ia mencoba membangun kembali pengetahuan di atas fondasi tersebut.
Skeptisisme hadir dalam berbagai bentuk. Skeptisisme global meragukan semua pengetahuan. Skeptisisme lokal meragukan pengetahuan dalam domain tertentu, seperti moralitas atau dunia eksternal. Skeptisisme Cartesian meragukan keberadaan dunia eksternal, menggunakan argumen mimpi dan hipotesis setan jahat. Skeptisisme Humean meragukan kausalitas dan induksi. Skeptisisme tidak sama dengan sinisme, yang tidak mempercayai motif, atau nihilisme, yang menyangkal nilai. Ini adalah sikap metodologis, cara untuk menguji klaim. Beberapa filsuf berpendapat bahwa skeptisisme bersifat kontradiktif. Jika Anda tahu bahwa Anda tidak dapat mengetahui apa pun, maka Anda mengetahui sesuatu. Yang lain berpendapat bahwa skeptisisme adalah cambuk yang berguna, memaksa kita untuk memeriksa asumsi kita. Perdebatan terus berlanjut.
Bentuk-bentuk skeptisisme
- Global.
- Lokal.
- Kartesian.
- Humean.
Skeptisisme tidak sama dengan keraguan. Keraguan adalah perasaan. Skeptisisme adalah sikap tentang kemungkinan pengetahuan.
Comments
No comments yet. Be the first to share a thought.
Leave a comment