Positivisme berpendapat bahwa pengetahuan berasal dari pengamatan ilmiah. Ia menolak metafisika sebagai sesuatu yang tidak bermakna dan menegaskan bahwa klaim harus dapat diverifikasi secara empiris. Auguste Comte mendirikan gerakan ini pada abad ke-19, dengan berargumen bahwa pemikiran manusia melewati tiga tahap: teologis, metafisik, dan positif. Pada tahap positif, kita berhenti bertanya mengapa dan fokus pada bagaimana. Kita menggambarkan keteraturan, bukan esensi. Positivisme logis, sebuah gerakan abad ke-20 yang terkait dengan Lingkaran Wina, mencoba untuk memformalkan program ini. Ia berpendapat bahwa pernyataan yang bermakna bersifat analitik, seperti matematika, atau dapat diverifikasi secara empiris, seperti sains. Segala sesuatu yang lain adalah omong kosong.
Positivisme logis runtuh karena bebannya sendiri. Prinsip verifikasi itu sendiri tidak dapat diverifikasi secara empiris. Namun, positivisme meninggalkan jejak yang abadi dalam filsafat, sains, dan ilmu sosial. Ia mendorong penelitian empiris yang ketat dan skeptisisme terhadap spekulasi. Ia memengaruhi behaviorisme dalam psikologi, strukturalisme dalam antropologi, dan metode kuantitatif dalam sosiologi. Para kritikus berpendapat bahwa positivisme terlalu sempit, bahwa ia mengabaikan makna, interpretasi, dan nilai-nilai. Para pembela menjawab bahwa ia menjaga kejujuran penyelidikan. Perdebatan antara positivisme dan para kritikusnya berlanjut dalam filsafat ilmu sosial.
Tema-tema positivis
- Verifikasi empiris.
- Penolakan metafisika.
- Kesatuan ilmu pengetahuan.
- Netralitas nilai.
Positivisme tidak sama dengan empirisme, meskipun keduanya saling tumpang tindih. Empirisme adalah teori pengetahuan. Positivisme adalah program untuk ilmu pengetahuan.
Comments
No comments yet. Be the first to share a thought.
Leave a comment