Air minum aman untuk dikonsumsi. Air tersebut memenuhi standar untuk kontaminan mikroba, kimia, dan fisik. Air tersebut tampak jernih, berbau bersih, dan rasanya enak. Sebagian besar orang di negara maju menganggapnya sebagai hal yang biasa. Miliaran orang tidak memilikinya.
Pengolahan air minum melibatkan beberapa tahapan. Koagulasi dan flokulasi menggumpalkan partikel kotoran. Sedimentasi memungkinkan partikel tersebut mengendap. Filtrasi menghilangkan partikel yang tersisa. Disinfeksi, biasanya dengan klorin atau sinar ultraviolet, membunuh patogen. Beberapa sistem menambahkan fluorida untuk mencegah kerusakan gigi. Proses pastinya bergantung pada sumbernya: sungai, danau, waduk, atau akuifer bawah tanah.
Air minum tidak boleh mengandung apa saja.
- Bakteri patogen, virus, dan parasit.
- Kadar timbal, arsenik, nitrat, atau bahan kimia lainnya yang berlebihan.
- Tingkat produk sampingan disinfeksi yang berbahaya.
- Mikroplastik dan kontaminan industri, semakin dipantau.
- Rasa, bau, atau warna yang tidak dapat diterima.
Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan bahwa miliaran orang kekurangan air minum yang dikelola dengan aman. Konsekuensinya sangat serius: penyakit diare, kolera, tifus, dan kematian anak. Di negara-negara maju, pipa-pipa tua dan saluran air berbahan timbal masih menjadi masalah. Flint, Michigan, adalah contoh terbaru yang paling terkenal. Air minum bukan hanya pencapaian teknis. Ini adalah fondasi kesehatan masyarakat, dan pemeliharaannya membutuhkan investasi yang berkelanjutan.
Comments
No comments yet. Be the first to share a thought.
Leave a comment