Tidak ada cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang. Fakta sederhana itulah yang menjadi dasar ilmu ekonomi. Kelangkaan berarti sumber daya terbatas sementara keinginan tidak terbatas. Hal ini memaksa kita untuk memilih. Pemerintah dapat membangun rumah sakit atau jalan raya, tetapi tidak selalu keduanya. Seorang siswa dapat belajar kedokteran atau hukum, tetapi tidak secara bersamaan. Setiap keputusan memiliki biaya, dan biaya itu adalah alternatif yang dikorbankan.
Kelangkaan tidak sama dengan kekurangan. Kekurangan bersifat sementara, seperti antrean panjang untuk membeli tisu toilet selama pandemi. Kelangkaan bersifat permanen. Bahkan di negara-negara kaya, orang tidak dapat memiliki semua yang mereka inginkan. Perbedaannya adalah kelangkaan di negara-negara kaya seringkali berkaitan dengan waktu dan perhatian, bukan makanan dan tempat tinggal. Seorang eksekutif kaya mungkin memiliki banyak uang tetapi tidak cukup waktu dalam sehari.
Sistem ekonomi yang berbeda menangani kelangkaan dengan cara yang berbeda. Pasar menggunakan harga untuk menjatah barang. Pemerintah menggunakan antrean, penjatahan, atau perencanaan terpusat. Komunitas menggunakan prinsip berbagi dan timbal balik. Setiap metode memiliki kekuatan dan kelemahan. Harga efisien tetapi dapat mengecualikan orang miskin. Antrean adil tetapi boros. Berbagi berhasil dalam kelompok kecil tetapi tidak di kota-kota besar. Tidak ada sistem yang telah menyelesaikan masalah kelangkaan, karena memang tidak dapat diselesaikan. Kelangkaan hanya dapat dikelola.
Implikasi utama
- Kompromi tidak dapat dihindari.
- Biaya peluang adalah biaya sebenarnya dari setiap pilihan.
- Harga membatasi ketersediaan barang langka dalam ekonomi pasar.
- Kelangkaan bersifat permanen, sedangkan kekurangan bersifat sementara.
- Sistem yang berbeda mengalokasikan sumber daya yang langka secara berbeda.
Comments
No comments yet. Be the first to share a thought.
Leave a comment