Ekonomi klasik berasumsi bahwa manusia adalah kalkulator rasional. Mereka mempertimbangkan biaya dan manfaat, mengingat setiap fakta yang relevan, dan memilih apa pun yang memaksimalkan keuntungan mereka sendiri. Siapa pun yang pernah membeli keanggotaan gym di bulan Januari tahu bahwa ini tidak sepenuhnya benar.
Ekonomi perilaku menanggapi otak manusia yang kompleks dengan serius. Ilmu ini meminjam dari psikologi untuk menjelaskan mengapa kita menghabiskan uang secara berlebihan saat gajian, mengapa kita berpegang teguh pada investasi yang merugi, dan mengapa pilihan default pada formulir dapat mendorong jutaan orang untuk menabung lebih banyak. Bidang ini berkembang pesat pada tahun 1970-an ketika Daniel Kahneman dan Amos Tversky mulai mendokumentasikan bias sistematis dalam pengambilan keputusan. Richard Thaler kemudian menunjukkan bagaimana bias tersebut membentuk pasar dan kebijakan publik.
Beberapa temuan telah menjadi alat praktis. Pendaftaran otomatis dalam program pensiun, misalnya, memanfaatkan inersia ke arah yang bermanfaat. Wawasan lainnya lebih suram: perusahaan merancang jebakan berlangganan dan penetapan harga yang membingungkan karena mereka tahu konsumen tidak akan membaca ketentuan yang tertera secara rinci.
Ide-ide utama
- Keengganan terhadap kerugian: kerugian terasa menyakitkan kira-kira dua kali lebih besar daripada keuntungan yang setara.
- Anchoring: angka pertama yang kita lihat akan memengaruhi perkiraan selanjutnya.
- Bias saat ini: kita terlalu menghargai imbalan langsung dan meremehkan imbalan di masa depan.
- Pembingkaian: cara sebuah pilihan diungkapkan akan mengubah apa yang kita pilih.
Comments
No comments yet. Be the first to share a thought.
Leave a comment