Ketika sungai meluap, atau hujan turun lebih deras daripada kemampuan tanah untuk menyerapnya, terjadilah banjir. Bagi petani di hilir, itu berarti tanaman terendam, lapisan tanah atas hanyut, dan terkadang kehilangan waktu kerja selama berminggu-minggu.
Banjir tidak selalu merupakan bencana. Sungai Nil, Tigris, dan Indus semuanya mendukung peradaban pertanian awal justru karena banjir terjadi secara teratur, meninggalkan endapan lumpur yang segar. Petani Mesir menanam saat air surut. Ritme itu bertahan selama ribuan tahun, hingga bendungan dan tanggul mengambil alih tugas mengendalikan aliran air.
Mengapa banjir merugikan pertanian modern?
- Akar akan mati lemas dalam beberapa hari jika tanah tergenang air.
- Arus air yang deras mengikis lapisan atas yang kaya nutrisi.
- Limbah, bahan kimia, dan patogen menyebar ke hasil pertanian.
- Pagar, lumbung, dan pakan ternak yang disimpan dapat hancur.
Para pemulia tanaman telah mengembangkan padi dan beberapa serealia yang toleran terhadap perendaman singkat, tetapi sebagian besar tanaman tidak dapat bertahan lebih dari beberapa hari di bawah air. Petani di dataran banjir semakin bergantung pada bedengan yang ditinggikan, parit drainase, dan asuransi banjir untuk mengelola risiko.
Comments
No comments yet. Be the first to share a thought.
Leave a comment