Ekosistem pesisir seperti hutan bakau, padang lamun, dan rawa garam mengubur karbon organik di dalam tanahnya dengan laju yang seringkali melebihi laju hutan darat. Karbon yang tersimpan ini dikenal sebagai karbon biru. Karena sedimen tetap tergenang air dan rendah oksigen, dekomposisi berlangsung lambat dan karbon dapat tetap terkunci selama berabad-abad.
Oleh karena itu, melindungi dan memulihkan habitat ini menawarkan manfaat ganda: konservasi keanekaragaman hayati dan mitigasi iklim. Ketika ekosistem terdegradasi, karbon yang tersimpan dapat dilepaskan kembali ke atmosfer sebagai karbon dioksida. Penghitungan stok karbon biru yang akurat menjadi bagian dari strategi iklim nasional dan proyek pasar karbon.
Penelitian berfokus pada pengukuran tingkat penguburan, pemahaman tentang nasib karbon setelah meninggalkan zona pesisir, dan kuantifikasi manfaat tambahan dari perlindungan pantai dan dukungan perikanan. Inisiatif karbon biru paling efektif bila juga mengatasi faktor sosial dan ekonomi lokal yang mendorong hilangnya habitat.
Padang lamun yang sehat dapat mengakumulasi karbon di sedimennya tahun demi tahun tanpa perubahan yang terlihat di permukaan.
Comments
No comments yet. Be the first to share a thought.
Leave a comment