Nihilisme berpendapat bahwa hidup tidak memiliki makna, tujuan, atau nilai intrinsik. Kata ini berasal dari bahasa Latin nihil, yang berarti ketiadaan. Kata ini sering dikaitkan dengan Nietzsche, meskipun ia bukanlah seorang nihilis. Ia mendiagnosis nihilisme sebagai kondisi budaya, konsekuensi dari kematian Tuhan dan runtuhnya nilai-nilai tradisional. Tanggapannya bukanlah untuk menerima ketiadaan makna, tetapi untuk mengatasinya, dengan menciptakan nilai-nilai baru dan menegaskan kehidupan. Nihilisme sebagai sebuah posisi adalah penolakan terhadap adanya kebenaran moral objektif atau tujuan kosmik.
Nihilisme memiliki beberapa bentuk. Nihilisme moral menyangkal adanya fakta moral. Nihilisme eksistensial menyangkal bahwa hidup memiliki makna. Nihilisme epistemologis menyangkal bahwa pengetahuan itu mungkin. Nihilisme metafisik menyangkal bahwa sesuatu itu ada, atau bahwa hanya ketiadaan yang ada. Nihilisme sering dikaitkan dengan keputusasaan, tetapi tidak semua nihilis putus asa. Beberapa berpendapat bahwa ketiadaan makna itu membebaskan. Jika tidak ada yang penting secara objektif, kita bebas untuk menciptakan makna kita sendiri. Yang lain berpendapat bahwa nihilisme adalah jalan buntu, dan bahwa kita membutuhkan sumber nilai baru. Perdebatan antara nihilisme dan para kritikusnya adalah salah satu percakapan yang menentukan modernitas.
Bentuk-bentuk nihilisme
- Moral.
- Eksistensial.
- Epistemologis.
- Metafisika.
Nihilisme tidak sama dengan skeptisisme. Skeptisisme meragukan pengetahuan. Nihilisme menyangkal nilai dan makna.
Comments
No comments yet. Be the first to share a thought.
Leave a comment