Teori proses lawan mengusulkan bahwa penglihatan warna bergantung pada pasangan proses yang berlawanan: merah-hijau, biru-kuning, dan hitam-putih. Stimulasi salah satu anggota pasangan akan menghambat anggota lainnya.
Ewald Hering awalnya mengusulkan ide ini untuk menjelaskan fenomena yang tidak mudah ditangani oleh teori trikromatik, seperti bayangan komplementer dan fakta bahwa kombinasi warna tertentu (hijau kemerahan, kuning kebiruan) tidak pernah terlihat. Fisiologi modern telah mengidentifikasi sel-sel lawan dalam sistem visual yang meningkatkan aktivitasnya terhadap satu warna dan menurunkannya terhadap warna komplementer. Teori ini beroperasi setelah tahap tiga kerucut awal, mengatur ulang sinyal kerucut ke dalam saluran lawan.
Bayangan setelah melihat (afterimage) memberikan bukti sehari-hari. Menatap permukaan merah lalu melihat latar belakang netral menghasilkan bayangan hijau, yang konsisten dengan efek pantulan pada pasangan lawan. Logika yang sama berlaku untuk pasangan lainnya. Teori proses lawan dan teori trikromatik kini dipandang sebagai deskripsi komplementer dari tahapan-tahapan berurutan dalam pemrosesan warna.
Ketika aktivitas suatu warna menekan aktivitas warna lawannya, teori proses lawan menjelaskan mekanisme tersebut.
Comments
No comments yet. Be the first to share a thought.
Leave a comment