Agroekologi adalah penerapan prinsip-prinsip ekologi pada desain dan pengelolaan sistem pertanian. Agroekologi memperlakukan lahan pertanian sebagai ekosistem, menekankan keanekaragaman hayati, siklus nutrisi, kesehatan tanah, pengaturan hama alami, dan ketahanan daripada ketergantungan pada input kimia eksternal. Istilah ini pertama kali digunakan pada tahun 1920-an oleh ahli agronomi Rusia Basil Bensin dan menjadi terkenal pada tahun 1970-an dan 1980-an melalui karya para ilmuwan seperti Miguel Altieri dan Stephen Gliessman, yang menghubungkan teori ekologi dengan pengetahuan pertanian tradisional. Agroekologi memanfaatkan praktik-praktik termasuk tumpang sari, rotasi tanaman, tanaman penutup tanah, agroforestri, pengelolaan hama terpadu, dan pembuatan kompos. Di luar bidang agronomi, agroekologi telah menjadi gerakan sosial dan politik yang mengadvokasi kedaulatan pangan, penelitian yang dipimpin petani, dan sistem pangan yang adil, khususnya di Amerika Latin melalui organisasi seperti La Vía Campesina. Pada tahun 2014, FAO menyelenggarakan simposium internasional yang mengakui agroekologi sebagai jalan menuju produksi pangan berkelanjutan. Para pendukung menyebutkan peningkatan kandungan karbon dalam tanah, pengurangan biaya input, dan ketahanan terhadap perubahan iklim; para kritikus mencatat potensi pertukaran hasil panen dan tantangan dalam meningkatkan skala metode padat karya ke volume industri.
🌱 Agroekologi
Ekologi yang diterapkan pada sistem pertanian.
Comments
No comments yet. Be the first to share a thought.
Leave a comment