Kekeliruan ikut-ikutan mengasumsikan sesuatu itu benar karena banyak orang mempercayainya. Semua orang melakukannya, jadi itu pasti benar. Itulah argumennya. Ini adalah kekeliruan. Popularitas bukanlah bukti. Sejuta orang bisa salah. Mayoritas tidak selalu benar. Sejarah penuh dengan contoh kepercayaan yang dianut secara luas yang ternyata salah.
Istilah ini berasal dari bandwagon, yaitu kereta yang membawa band musik dalam parade. Para politisi akan ikut serta dalam bandwagon untuk menunjukkan dukungan. Kerumunan akan mengikuti. Metafora ini tepat. Kekeliruan bandwagon adalah tentang mengikuti kerumunan. Hal ini memanfaatkan keinginan untuk menjadi bagian dari kelompok. Hal ini menekan individu untuk menyesuaikan diri.
Contoh kekeliruan ikut-ikutan
- Semua orang membeli saham ini, jadi pasti ini investasi yang bagus.
- Sebagian besar orang percaya pada diet ini, jadi pasti berhasil.
- Semua anak gaul merokok, jadi kamu juga harus merokok.
- Mayoritas memilih kebijakan ini, jadi kebijakan ini benar.
- Film ini populer, jadi pasti bagus.
Kesalahan logika ikut-ikutan (bandwagon fallacy) umum terjadi dalam periklanan, politik, dan tekanan teman sebaya. Para pengiklan mengatakan semua orang menginginkan produk ini. Para politisi mengatakan masyarakat mendukung kebijakan ini. Teman-teman mengatakan semua orang akan pergi. Daya tariknya adalah konformitas. Tetapi konformitas bukanlah kebenaran. Suatu kepercayaan bisa populer dan salah. Suatu kepercayaan bisa tidak populer dan benar. Kesalahan logika ikut-ikutan mengabaikan bukti. Ia berfokus pada kerumunan. Kerumunan dapat menjadi sinyal yang berguna. Jika semua orang berlari, mungkin ada kebakaran. Tetapi kerumunan bukanlah bukti. Anda tetap perlu mencari kebakaran tersebut. Kesalahan logika ikut-ikutan adalah jalan pintas. Jalan pintas bisa berguna. Jalan pintas juga bisa membawa Anda ke jurang. Ikut-ikutan tidak masalah jika Anda tahu ke mana arahnya.
Comments
No comments yet. Be the first to share a thought.
Leave a comment