Sudut pandang orang pertama menggunakan narator yang merupakan karakter dalam cerita dan yang menyebut dirinya sendiri sebagai "saya." Pembaca mengalami peristiwa melalui kesadaran karakter tersebut.
Pilihan tersebut menciptakan keintiman dan kedekatan; namun juga membatasi narasi pada apa yang diketahui, diamati, atau bersedia diungkapkan oleh narator. Narator orang pertama yang tidak dapat diandalkan dapat menambah kompleksitas, memaksa pembaca untuk mempertanyakan kisah tersebut. Contoh klasik berkisar dari Jane Eyre dan Huckleberry Finn hingga banyak novel dan cerita pendek modern. Suara narator harus tetap konsisten dan khas agar ilusi tersebut dapat dipertahankan.
Narasi orang pertama dapat bersifat retrospektif, di mana narator yang lebih tua mengenang masa mudanya, atau dapat juga diceritakan dalam bentuk waktu sekarang untuk memberikan kesan yang lebih mendesak. Narasi ini kurang umum dalam fiksi epik atau panoramik karena cakupannya yang terbatas, namun unggul dalam kedalaman psikologis dan penceritaan yang digerakkan oleh suara narator.
Ketika cerita diceritakan oleh "saya" yang ikut serta dalam aksi tersebut, sudut pandangnya adalah orang pertama.
Comments (3)
Leave a comment