Migrasi data memindahkan data dari satu sistem ke sistem lain. Sebuah perusahaan meningkatkan sistem ERP-nya. Sebuah tim berpindah dari basis data lokal ke cloud. Dua organisasi bergabung dan harus menggabungkan sistem mereka. Migrasi mentransfer data, mengubahnya agar sesuai dengan skema baru, dan memverifikasi bahwa tidak ada yang hilang atau rusak. Kedengarannya mudah. Namun, jarang sekali demikian.
Migrasi gagal karena alasan yang dapat diprediksi. Data sumber lebih kotor dari yang diharapkan. Skema target tidak sesuai dengan sumber data. Aturan bisnis yang tertanam dalam sistem lama tidak terdokumentasi. Migrasi memakan waktu lebih lama dari yang direncanakan dan sistem lama dinonaktifkan sebelum sistem baru siap. Waktu henti (downtime) diperlukan dan bisnis tidak mampu menanggungnya. Migrasi terbaik dimulai dengan pembuatan profil. Pahami data sumber: kualitasnya, keunikannya, dan volumenya. Petakan setiap field ke target. Tulis aturan transformasi. Uji dengan sebagian kecil data sebelum memigrasikan semuanya. Jalankan sistem paralel untuk jangka waktu tertentu. Verifikasi jumlah record, total, dan sampel record. Siapkan rencana rollback. Migrasi berisiko karena menyentuh segalanya. Field yang terlewat dapat merusak proses selanjutnya. Record yang rusak dapat tidak terdeteksi selama berbulan-bulan. Perencanaan lebih penting daripada eksekusi. Pada saat data dipindahkan, keputusan-keputusan sulit seharusnya sudah dibuat.
Fase migrasi
- Profil — memahami kualitas dan struktur data sumber
- Peta — mendefinisikan pemetaan bidang sumber ke target
- Transformasi — menulis aturan untuk mengkonversi data
- Uji — migrasikan sebagian kecil dan verifikasi
- Eksekusi — pindahkan seluruh kumpulan data
- Validasi — konfirmasikan jumlah, total, dan sampel.
Migrasi data adalah sebuah proyek, bukan sekadar tugas. Perlakukanlah dengan perencanaan yang semestinya.
Comments
No comments yet. Be the first to share a thought.
Leave a comment