Menebak-nebak tidak lagi dapat diterima untuk menentukan harga risiko badai atau gempa bumi. Pemodelan bencana menggunakan simulasi komputer tentang bahaya alam, penilaian kerusakan oleh pihak teknik, dan data paparan asuransi untuk memperkirakan distribusi potensi kerugian dari peristiwa ekstrem.
Model menghasilkan ribuan simulasi peristiwa, menerapkan fungsi kerentanan pada portofolio properti, dan menghasilkan metrik seperti kerugian tahunan rata-rata dan kerugian maksimum yang mungkin terjadi. Perusahaan asuransi, reasuransi, dan lembaga pemeringkat mengandalkan hasil ini untuk penetapan harga, alokasi modal, dan pengujian stres.
Hasil pemodelan sensitif terhadap asumsi tentang frekuensi bencana, ketahanan bangunan, dan lonjakan permintaan. Vendor secara teratur memperbarui model seiring dengan peningkatan ilmu pengetahuan dan pengalaman klaim. Pengguna harus memahami keterbatasannya dan menghindari memperlakukan satu angka pun sebagai fakta yang pasti. Disiplin ilmu ini telah menjadi sangat penting di pasar yang rawan bencana.
- Simulasi komputer tentang kerugian akibat bencana alam
- Menggabungkan data bahaya, kerentanan, dan paparan.
- Menghasilkan metrik kerugian untuk penetapan harga dan modal.
- Membutuhkan interpretasi asumsi yang cermat.
Comments
No comments yet. Be the first to share a thought.
Leave a comment