Matahari telah terbenam. Langit belum sepenuhnya gelap. Langit bersinar biru pekat, dan lampu-lampu kota mulai menyala. Itulah jam biru, jendela waktu senja yang singkat ketika cahaya terasa sejuk, lembut, dan merata. Fenomena ini terjadi dua kali sehari, tepat sebelum matahari terbit dan tepat setelah matahari terbenam, dan berlangsung antara dua puluh menit hingga lebih dari satu jam tergantung pada garis lintang dan musim.
"Blue hour" adalah waktu favorit untuk memotret pemandangan kota. Langit cukup terang untuk mempertahankan detail, dan lampu buatan cukup terang untuk terekam. Kontras antara langit biru yang sejuk dan jendela tungsten yang hangatlah yang membuat gambar-gambar tersebut berhasil. Cahayanya menyebar, sehingga bayangan lembut dan warna-warna menjadi redup. Tripod biasanya dibutuhkan, karena waktu pencahayaan berlangsung hingga beberapa detik. Keseimbangan putih sangat penting. Mengatur kamera ke mode siang hari atau tungsten akan mengubah warna langit. Banyak fotografer membiarkannya pada mode otomatis dan menyesuaikannya di tahap pasca-produksi.
Apa yang harus difoto saat blue hour?
- Pemandangan Kota.
- Tepi Laut.
- Bangunan dan Jembatan dengan Pencahayaan Arsitektural.
- Potret.
Waktu senja biru itu singkat. Rencanakan bidikan sebelum dimulai, dan bersiaplah untuk memotret saat cahaya mencapai puncaknya.
Comments
No comments yet. Be the first to share a thought.
Leave a comment