Sebelum satu jahitan pun dijahit, seorang desainer mengumpulkan gambar-gambar. Foto-foto garis pantai. Potongan-potongan kain vintage. Sampel warna yang disobek dari majalah. Semua ini ditempatkan di mood board, kolase visual yang menangkap arah sebuah koleksi. Bukan desainnya itu sendiri. Melainkan perasaan di baliknya, yang dipajang di dinding atau ditampilkan di layar.
Mood board hadir dalam berbagai bentuk. Beberapa berbentuk fisik, dibuat di atas gabus dengan pin dan gambar yang dicetak. Lainnya berbentuk digital, disusun dalam aplikasi seperti Pinterest atau Milanote. Seorang desainer mungkin menyertakan potongan kain, bunga kering, sobekan tiket, atau catatan tulisan tangan. Perpaduan tekstur dan referensi sama pentingnya dengan gambar. Sebuah mood board yang terlihat berantakan pun tetap dapat mengkomunikasikan arah yang jelas kepada tim.
Papan ide memiliki tujuan praktis. Ia menyelaraskan tim desain, pemasaran, dan produksi di sekitar satu visi. Ia memberikan pembeli dan pers sebuah cerita yang dapat mereka pegang. Ia juga mendokumentasikan proses kreatif. Bertahun-tahun kemudian, seorang desainer dapat melihat kembali papan ide tersebut dan melihat dari mana sebuah ide bermula. Papan ide terbaik bersifat spesifik. Kumpulan gambar-gambar indah yang samar tidak membantu siapa pun. Papan ide dengan sudut pandang yang jelas akan mendorong pekerjaan ke depan.
Elemen umum
- Foto referensi
- Contoh warna
- Sampel kain dan tekstur
- Kata dan frasa
- Sketsa dan catatan
Comments
No comments yet. Be the first to share a thought.
Leave a comment